02054 2200253 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001100118084001700129100003300146245004500179250002000224300004600244505135700290600001601647264004701663336002101710337003001731338002301761990001601784INLIS00000000000017020210204102642 a0010-0121000165ta210204 g 0 ind  a979-3414-25-1 a297.72 a297.72 ALI p0 aAli Amad BakatsirePengarang1 aPertemuan Qadisiyah /cAli Amad Bakatsir aCetakan Pertama ai, 154 Halaman :bIlustrasi ;c15 x 21 cm aPerang bukanlah sebuah pilihan utama, apalagi yang pertama. Namun, bila jalan perang terpaksa harus ditempuh, pantang untuk bersurut langkah. Terlebih, untuk mempertahankan kalimat ilahiah dan kesaksian terhadap Muhammad Saw. sebagai Rasulullah. Bila menang, kemuliaan akan didapat, sedang bila syahid, surgalah balasannya. Kali ini, peperangan menentukan nasib antara pasukan Islam dengan pasukan Persia terjadi di Istana Qudais. Pasukan Persia di bawah komando Panglima Rustum merangsek menuju istana tempat bermukimnya Panglima Sa'd bin Abi Waqqash. Bersama pasukan gajah dan tentara yang banyak, Persia berhasil mendesak barikade pertahanan buatan Sa'd dan sahabat-sahabat Rasulullah Saw. lainnya seperti Salman Al-Farisi, Mughirah bin Syu'bah, Al-Qa'qa' bin Amru dan Ashim bin Amru. Berkat keyakinan teguh, semangat membara, strategi cerdik, kebersamaan dan moralitas tinggi dari kaum Muslimin dalam menghadapi peperangan itu akhirnya membuahkan kemenangan, meski tidak sedikit korban berjatuhan. Rangkaian peristiwa mengagumkan ini bukan fiksi. Ia tercatat dalam sejarah gemilang Islam di zaman Ke-khalifahan Umar bin Khathab. Kehormatan dan kejayaan memang harus diperjuangkan dengan beribu cara. Dan bila perang sebuah pilihan pahit sudah menjadi satu-satunya pilihan, harus tetap diingat bahwa targetnya adalah mewujudkan perdamaian hakiki. 4aAgama Islam aSolo :bPT. Era Adicitra Intermedia,c2007 aTeks2rdacontent aTanpa Perantara2rdamedia aVolume2rdacarrier a00000000586